Senin, 02 Oktober 2017

SUKA DUKA ANAK RANTAU



NAMA                : SUKMAWATI LAMASANO
FAKULTAS        : HUKUM
NIM                    : 163124330050002
NAMA DOSEN : SEREPINA TIUR MAIDA, S. Sos, M. Pd


Sebelumnya mohon maaf kalau dalam postingan ini Saya menggunakan kata Beta sebagai kata ganti Saya/Aku.
   Beta berasal dari Pulau Ambon, tepatnya kecamatan Tehoru. Datang merantau mencari ilmu pengetahuan di Ibukota yang begitu keras akan kehidupannya.
   Yes.. tepatnya Kota Jakarta. Sebulan menjelang perjalanan ke jakarta disitulah beta mulai menyiapkan mental untuk bisa bertahan hidup sendiri di tanah orang.
   Awal perjalanan ke Bandara, disitulah beta mulai berjanji untuk jiwa & raga bukan hanya jasmani tapi juga rohani. (menundukkan kepala sejenak, berdoa dalam hati) “Jauh-jauh ke jakarta tujuannya hanya satu. Mengumpulkan ilmu setinggi Gunung, meraih Cita-cita untuk membahagiakan orangtua”. (dan tanpa sadar air matapun menetes tanpa permisi)
   Okhay! Jakarta. Kota tidak pernah tidur.
Ibukota tanah air beta ini luar biasa isinya. Mulai dari ujung Sabang sampai Merauke, semuanya bisa katong dapa disini.
   Pertama kali menghirup udara kehidupan dikota jakarta, sebagai seorang remaja berusia 17 tahun, merupakan suatu pertarungan iman dan perjuangan besar akan dimulai. Hehehe
Di jakarta kita bisa melihat segalanya, Gedung-gedung pencakar langit, masyarakat jakarta yang beraktifitas tiada hentinya, berbagai macam suku, agama, ras, kebudayaan semuanya bercampur menjadi satu.
   Beta lahir & hidup selama 17 tahun di ambon, maluku. Menyelesaikan SD - SMA. Dan baru kali ini menjauh dari orangtua dalam waktu yang lama bahkan bertahun-tahun
Menurut hemat beta, jadi anak rantau itu menyenangkan, susah, bosan, seru bahkan yah katakanlah ada asem-asemnya juga...!hehehe
   Di ambon beta adalah mayoritas, tapi ketika berada di ibukota, beta adalah minoritas. Khususnya dilingkungan kampus. Namun dilain sisi beta senang bisa bertemu dengan berbagai macam suku, agama, ras, budaya, bentuk wajah bahkan sifat. Namun segala

   Well, karena salah satu alasan beta memilih Ibukota sebagai tempat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi padahal di kota ambon banyak perguruan tinggi yang beta tinggalkan karena, dari panilaian beta sendiri, kalaupun semenjak SD dan SMA sudah berada di kota yang sama, bergaul dengan orang yang sama, lingkungan yang sama, dengan begitu kapan wawasan, pemikiran kita bisa terbuka luas. Selagi orangtua kita masih mampu apa salahnya mencoba hal baru demi mendapatkan pengalaman yang luarbiasa.
   Pertama kali masuk kuliah, beta harus berpakaian rapih, menebar senyuman kepada semua orang dan berperilaku ramah. Hari pertama beta berhasil mendapatkan teman dari dalam daerah bahkan luar daerah, dari suku dan agama yang berbeda-beda pula.
   Dam di hari pertama kuliah akhirnya beta berhasil mendapatkan teman yang baru dengan berbagai latar belakang yang berbeda, mendapatkan pengalaman yang luar biasa yang tidak akan beta dapatkan kalau hanya kuliah dikota ambon. Beta bersyukur walaupun jauh dari orangtua, tapi disini beta mendapatkan keluarga yang lain yang sama-sama dari Ambon bagian timur Indonesia yang selalu menjaga, membimbing untuk hal-hal yg positif dan menasehati ketika beta sedang rindu akan kampung halaman.
   Namanya maba pasti ada aja yang ditanya-tanya, selain ditanya nama dll, mereka juga menanyakan asal. Dengan sangat gembira beta bilang bahwa, beta dari Ambon. Tapi yang bikin nyesek kalo kata orang ambon “jengkel”, pas beta bilang orang ambon dong punya respon balik itu, rata-rata tidak percaya kalo beta orang ambon, karena katanya “orang ambon kok putih! Ambon kok rambutnya ga keriting!”.
   Dengan senang hati beta berusaha meyakinkan mereka, Sebab stigma orang kota terhadap kita orang ambon itu katong orang ambon identik dengan kulit hitam, rambut kariting, muka seram. Memang semua itu betul dan itulah ciri khas katong orang dari timur. Tapi dengan adanya pernikahan silang. Dari pernikahan silang itulah melahirkan anak yang berwajah variatif yang bukan hanya berwajah ambon, tapi juga jawa dsb. Yaa walaupun beta sendiri orang tua asli ambon bukan pernikahan silang. Tapi apaboleh buat rejeki ilahi. Hehehe
Kadang beta paleng jengkel kalo ada yang bilang beta orang aceh lah, jawa lah, parnakan arab lah.. Tuhan, sungguh jauh dari realita.
     Indonesia merupakan negara kaya raya yang memilki SDA dan SDM, kaya dengan ragam kebudayaan, agama dan kekayaan lainnya yang begitu melimpah. Jadi tidak heran jika negara-negara asing banyak yang melirik kekayaan indonesia.
   Next. Menjadi anak kos untuk pertama kalinya dalam hidup sungguh berat, apalagi buat beta yang tidak pernah kerja dirumah. Yang dari dulu jajan bisa sampai ratusan ribu tiap hari ketika menjadi anak kos benar-benar harus irit karena menghemat untuk keperluan buku, jajan, biaya lain tak terduga dan kebutuhan kuliah. Menghadapi hari-hari sendirian, mulai dari masak, bersih-bersih kamar, makan, nyuci piring, nyuci baju dan masalah-masalah lain yang timbul dalam bertetangga kos yang sungguh beta tidak inginkan.
   Namun beta percaya semua manusia tidak ada yang ingin masuk dalam masalah, hanya karena semua masalah yang datang Allah berikan untuk pelajaran seberapa sanggupkah hamba-Nya menghadapi masalah-masalah yang datang dengan sikap yang dewasa.
Beta yakin dengan keadaan yang demikian, menuntut beta untuk bagaimana bisa menempatkan diri beradaptasi dengan dilingkungan yang asing untuk menjadi lebih baik kedepannya.
   Adaptasi lain yang beta alami awal-awal di jakarta yaitu, mulai dari logat/cara berbicara, aneka macam nama dan bentuk makanan, perbedaan nama produk dan masih banyak lagi.
   Keadaan yang ada di jakarta takan sebanding dengan ketenangan yang disugukan oleh alam yang ada di Ambon. Bersantai diantara gunung dan bukit-bukit kecil dengan air yang jernih dan pasir putih adalah kenikmatan alam dunia yang ada di ambon, dan membuat hidup jauh lebih indah dibandingkan harus ke mall seperti yang dilakukan orang-orang di Kota.
   dengan segala perbedaan yang ada di kota membuat pola pikir dan wawasan akan terus berkembang tanpa memikirkan sisi negatifnya sebuah perbedaan. Karena "Lahirnya sebuah perbedaan untuk dapat terciptanya keindahan".